Kabartv_Tana Toraja — Dugaan kasus keracunan yang dialami sejumlah siswa di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat perhatian dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Kepala BBPOM Makassar, Yosef Setiawan, mengatakan Kabupaten Tana Toraja merupakan wilayah kerja BPOM di Palopo, bersama BBPOM Makassar dan Loka POM Bone yang memiliki tugas pengawasan keamanan pangan di Sulawesi Selatan.
“Untuk Tana Toraja masuk wilayah kerja BPOM di Palopo. Tentunya tim BPOM di Palopo akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pihak terkait untuk melakukan investigasi secara terpadu guna mengetahui penyebab kejadian,” ujar Yosef.
Yosef menambahkan, berdasarkan informasi sementara, sampel makanan dalam dugaan kasus tersebut akan dilakukan pengujian di BBPOM Makassar. Namun, hingga kini pihaknya mengaku belum menerima sampel untuk dilakukan pemeriksaan.
“Sesuai informasi, sampel akan diujikan di BBPOM Makassar. Namun, untuk saat ini memang belum kami terima sampelnya. “Kami menguji sampel makanannya, sedangkan sampel muntahan diperiksa di Labkesda,” jelasnya.
Pengujian laboratorium menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan ada atau tidaknya kandungan berbahaya maupun mikroorganisme pada makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut.
Menurut Yosef, keamanan pangan dalam program MBG tidak hanya bergantung pada satu tahapan, tetapi harus dijaga secara menyeluruh, mulai dari bahan baku, penyimpanan, proses pengolahan, peralatan, penjamah pangan, pemorsian, distribusi hingga makanan diterima oleh siswa.
Kesadaran terhadap keamanan pangan juga perlu diterapkan secara berkelanjutan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun lingkungan sekolah. Di antaranya memastikan tersedianya fasilitas cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, serta membiasakan siswa mencuci tangan sebelum makan dan menggunakan alat makan yang bersih.
Pangan siap saji juga harus segera dikonsumsi dan tidak dibiarkan terlalu lama. Terlebih makanan berbahan daging, unggas, ikan, dan telur yang memiliki kandungan protein tinggi dan berisiko menjadi media pertumbuhan mikroba apabila penanganan maupun penyimpanannya tidak tepat.
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium. Masyarakat diimbau menunggu hasil resmi dari pihak berwenang sebelum mengambil kesimpulan.
“Program yang baik tentunya harus dieksekusi dengan baik. Ketika berbicara mengenai keamanan pangan, ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Bukan pangan jika tidak aman,” tegas Yosef.
Diketahu sebelumnya, sebanyak 150 orang yang tergabung dari siswa dan guru mengalami dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), dan di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan atau perawatan.












