Ketika Limbah Segel Tangki Menemukan Kehidupan Kedua di Tangan Anak Muda Makassar

Proses Pengolahan Limbah Tutup Tangki Pertamina Menjadi Kursi Estetik Oleh Payabo.id

Kabartv.id_Makassar– Matahari bersinar terang di Kota Makassar. Siang itu, Fachri Achmad atau yang akrab disapa Riri tampak sibuk mengolah tumpukan limbah plastik di kolong rumah panggungnya di Jalan Bung, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, gunungan sampah plastik terlihat menumpuk di sisi kanan dan kiri rumah yang berdiri di tengah area persawahan tersebut. Bagi sebagian orang, plastik mungkin hanya dianggap sebagai barang bekas yang tidak lagi memiliki nilai. Namun di tangan Riri dan kelompok pemuda Payabo.id, limbah tersebut justru menjadi bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk bernilai guna.

Persoalan sampah plastik menjadi salah satu tantangan lingkungan di kawasan perkotaan. Plastik membutuhkan waktu lama untuk terurai secara alami. Berangkat dari kepedulian terhadap persoalan tersebut, sejumlah pemuda di Kota Makassar mengambil langkah berbeda. Fachri Achmad bersama Sri Rahayu dan rekan-rekannya mendirikan Payabo.id, sebuah usaha yang bergerak dalam pengolahan dan pemanfaatan kembali limbah menjadi berbagai produk kreatif dan perabot rumah tangga.

“Kami dari Payabo.id beberapa bulan ini kami membuat usaha berbahan utama dari sampah, dari usaha ini ada beberapa produk lebih tepatnya perabotan rumah tangga yang kami hasilkan seperti kursi dan meja” Kata ketua kelompok usaha Payabo.id Fachri Achmad, Kamis, (17/09/2026).

Pemuda berusia 24 tahun itu bersama sekitar sepuluh pemuda Payabo.id kini terus mengembangkan berbagai ide untuk mengolah sampah plastik menjadi produk baru. Setiap hari, material plastik dikumpulkan dan diproses sebagai bahan baku untuk membuat berbagai jenis produk. Bagi Riri, kegiatan tersebut bukan hanya tentang mengurangi jumlah limbah, tetapi juga menciptakan manfaat baru dari material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

“Manfaat sebenarnya kita lebih bisa mengurangi limbah segel Pertamina itu supaya diolah lagi menjadi produk multifungsi. Kalau dari Payabo.id sendiri hasil karyanya macam-macam. Kita bikin meja, kursi, tempat sampah, kemudian kita juga membuat upcycle dari limbah bekas menjadi tas, dompet dan produk lainnya,” ujarnya.

Dari proses pengolahan tersebut, Payabo.id menghasilkan berbagai produk dengan desain yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Mulai dari meja, kursi, tempat sampah hingga produk kreatif seperti stand gitar dan medali lari.

“Produk kita jual sesuai request, karena kita custom. Misalnya ada yang mau bikin meja, kita bisa menyesuaikan ukuran dan desainnya. Tempat sampah, kursi, meja, stand gitar sampai medali lari juga kita buat,” jelas Riri.

Fachri Achmad (Tengah) Bersama Yoga Pratama CRP & SMEPP PT Pertaina Patra Niaga Regional Sulawesi (Kiri) Memperlihatkan bahan Baku Tutup Tangki Yang Sudah DicacahKonsep pemanfaatan limbah itu kemudian mendapat dukungan dari PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi. Kolaborasi keduanya dikembangkan melalui program Mangkasara Ekokreasi yang menggabungkan aspek lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

Yoga Pratama, CSR dan SMEPP PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, mengatakan program tersebut dikembangkan untuk menghasilkan produk maupun kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Jadi memang kita ada program namanya Mangkasara Ekokreasi. Dari ekokreasi kita membuat output dari produk maupun program program yang juga bermanfaat untuk pemberdayaan masyarakat,” kata Yoga.

Salah satu fokus kolaborasi tersebut adalah pemanfaatan limbah plastik segel tangki yang dihasilkan dari aktivitas operasional Pertamina. Limbah tersebut kemudian dikumpulkan untuk diproses dan diolah kembali menjadi produk baru.

“Kami bekerja sama untuk mengolah limbah plastik segel Pertamina menjadi produk, salah satunya tempat sampah. Limbahnya setiap bulan ada sekitar 140 kilogram lebih. Limbah itu didrop ke BioUrban untuk dicacah. Setelah dari Biourban, material dikirim kembali ke Payabo untuk dipres, dicetak, kemudian dijadikan produk,” kata Riri.

Bagi Pertamina, limbah plastik segel tangki yang sebelumnya berpotensi menjadi buangan kini memiliki alternatif pemanfaatan. Sementara bagi Payabo.id, material tersebut menjadi bahan baku untuk menghasilkan produk sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pemuda.

“Setelah adanya Payabo.id, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi juga sangat terbantu. Selama ini kita menghasilkan limbah plastik dari segel tangki, jumlahnya bisa puluhan kilogram. Sekarang sudah ada solusi dengan cara didaur ulang menjadi produk bernilai ekonomis dan bisa digunakan sehari-hari,” jelas Yoga.

Produk yang dihasilkan bukan hanya memiliki fungsi, tetapi juga nilai estetika. Warna dan motif pada material plastik terbentuk melalui proses pengolahan sehingga menghasilkan tampilan yang berbeda pada setiap produk.

“Keunikan produk kami selain bahan yang berasal dari limbah plastik ada pada hasil akhirnya. Motifnya unik dan berbeda karena terbentuk alami saat plastik dilelehkan. Warna dan motif bercampur, sehingga setiap produk berbeda dan menjadi unik,” ungkap Riri.

Meja dan Kursi Hasil Daur Ulang Limbah Plastik Tutup Tangki Pertamina

Dari sisi ekonomi, pemanfaatan kembali limbah tersebut juga mulai memberikan nilai tambah. Salah satu produk yang dihasilkan Payabo.id adalah kursi berbahan dasar plastik daur ulang yang dijual dengan harga sekitar Rp400 ribu hingga Rp900 ribu per unit, tergantung ukuran dan desain.

“Kalau untuk nilai ekonomis, sudah bisa. Kita manfaatkan kembali limbah tersebut menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis,” ujar Riri.

Ia menyebut, produk yang dihasilkan juga memiliki daya tahan karena melalui proses pengolahan yang terukur.

“Harganya di kisaran Rp400 ribu sampai Rp900 ribu untuk satu unit kursi. Selain peduli lingkungan dan estetik, produk kita juga tahan lama karena dari plastik dan proses pembuatannya terukur, jadi hasilnya lebih tahan,” jelasnya.

Produk hasil pengolahan limbah tersebut kemudian ditempatkan di sejumlah titik di Kelurahan Tamalabba, Kecamatan Ujung Tanah, termasuk di lingkungan Integrated Terminal Makassar. Keberadaan produk tersebut tidak hanya dimanfaatkan secara praktis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kepada masyarakat bahwa limbah dapat memiliki kehidupan kedua ketika dikelola dengan kreativitas dan inovasi.

Bagi Riri, manfaat kolaborasi ini juga dirasakan secara langsung oleh para pemuda yang terlibat dalam Payabo.id. Mereka tidak hanya mendapatkan ruang untuk berkarya, tetapi juga memiliki peluang untuk memperoleh penghasilan dari produk yang dihasilkan.

“Kami sangat senang inovasi ini bisa bermanfaat. Kami sekarang ada pekerjaan, jadi tidak hanya bisa berperan dalam menjaga lingkungan, khususnya Kota Makassar, tetapi kami juga bisa berkarya dan tentu ada keuntungan ekonomi dari produk yang terjual,” ungkap Riri.

Kisah Payabo.id menunjukkan bahwa persoalan limbah dapat menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi. Limbah plastik segel tangki yang sebelumnya tidak memiliki nilai guna, dikumpulkan, dicacah, diproses, kemudian diubah menjadi berbagai produk yang dapat digunakan kembali.

Di dalam proses tersebut, terdapat keterlibatan pemuda, kreativitas, peluang usaha sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Bagi Pertamina, inovasi ini bukan sekadar tentang mengurangi limbah dari kegiatan operasional. Lebih jauh, kolaborasi tersebut menunjukkan bagaimana aktivitas industri dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat dan upaya menjaga lingkungan.

Sementara bagi Riri dan Payabo.id, limbah menjadi awal dari sebuah kesempatan. Kesempatan untuk bekerja. Kesempatan untuk berkarya. Dan kesempatan untuk mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Semangat inilah yang kemudian menjadi bagian dari Energizing Innovation. Energi tidak hanya tentang bahan bakar yang menggerakkan kendaraan dan aktivitas ekonomi. Energi juga dapat hadir dalam bentuk gagasan yang menggerakkan perubahan di tengah masyarakat. Dari Makassar, sebuah plastik segel tangki mendapatkan kehidupan kedua. Dari limbah menjadi karya. Dari karya menjadi nilai. Dan dari inovasi, energi perubahan terus menyala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *