DekKlik link dibawah untuk melihat videonya
https://youtu.be/hj-PStHC7kA?si=o3eRgx6hlBcg8_Hb
Kabartv_Makassar–KH Abdul Hakim Mahfudz Mantap Melangkah di Kontestasi PBNU, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ini sampaikan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU, Dukungan pun mengalir dari para kader dan pengurus pimpinan cabang dan pengurus wilayah di tanah daeng yakni Kota Makassar.
Saat di temui setelah Qanun Asasi bersama pengurus cabang dan pengurus wilayah NU Sulawesi selatan dan Sulawesi Barat, KH Abdul Hakim Mahfudz menyatakan siap maju, menjalankan amanah yang di titipkan kepadanya.
“Siap. Namanya berkhidmat di NU itu ya berkhidmat. Bukan jadi pemimpin di NU itu terus menikmati. Khidmat itu tanggung jawab kepada umat,” pungkasnya.
Sebelumnya Gus kikin juga mengantongi dukungan resmi dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, beserta 45 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU, kini Gus Kikin mendapat dukungan dari kader NU Sulselbar, untuk maju sebagai Calon Ketua PBNU.
“Waduh, saya tidak menghitung itu. Kalau mau dipilih ya silakan saja. Kesiapannya siap. Kalau ditunjuk siap, kalau tidak dipilih ya saya tidak apa-apa,” jawabnya lepas, seolah melepaskan beban ambisi duniawi.
Ketika ditanya lebih jauh soal kesiapannya menahkodai PBNU, kalimat yang keluar dari lisannya menggetarkan makna kepemimpinan itu sendiri.
“Siap. Namanya berkhidmat di NU itu ya berkhidmat. Bukan jadi pemimpin di NU itu terus menikmati. Khidmat itu tanggung jawab kepada umat,” pungkasnya.
Ketua Nahdlatul Ulama (NU) akan di pilih pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026.
Gus Kikin sendiri hadir di Makassar dalam rangka mengenalkan buku Qanun Asasi, menghidupkan kembali Qanun Asasi warisan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari untuk mengembalikan NU yang guyub, ayem, dan menentramkan Indonesia.
“Kehadiran saya di Makassar, pertama adalah merajut silaturahmi. Yang kedua, saya mengenalkan buku Qanun Asasi,” ujar Kiai yang akrab disapa Gus Kikin ini, kepada awak media.
Membangunkan Kembali Mahakarya 1926
Bagi Kiai Hakim, Qanun Asasi bukanlah sekadar literatur usang. Ia adalah pedoman dasar, roh, sekaligus kompas pergerakan yang dirumuskan langsung oleh sang pendiri, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari pada periode 1926 hingga 1929.
Misi utamanya sederhana diucapkan, namun agung dalam pelaksanaan: mengaplikasikan kembali aturan dasar tersebut di tubuh Nahdlatul Ulama.
“Supaya NU nanti itu jadi guyub, jadi adem, jadi ayem, tentrem,” tegasnya dengan tatapan teduh. Ia mengenang bagaimana masa lampau ketika pedoman ini dipegang teguh, kekeluargaan di tubuh NU begitu luar biasa, yang imbasnya menjadikan Indonesia sebagai negeri yang aman dan sentosa.












