berita  

Bukan Sekadar Bisa Bicara, Begini Cara Membuat Pesan Masuk ke Pikiran dan Hati

Kabartv.id_Makassar–Berbicara di depan banyak orang bukan sekadar soal keberanian menyampaikan kata-kata. Lebih dari itu, seorang komunikator perlu memastikan pesan yang disampaikan benar-benar dipahami, menarik perhatian, dan meninggalkan kesan bagi orang yang mendengarkan.

Hal tersebut menjadi salah satu materi menarik dalam pembekalan Bunda PAUD Kota Makassar yang digelar di Hotel Aryaduta, Kamis (24/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi Hypno Public Speaking dan Hypno Teaching yang dibawakan oleh Dr. H. M. Fadli Tahar, CHt(IACT-USA), CHM, CH.PS., CH.M, MMH., CHFrP., M.NLP., M.MH., CCHP., CI.

Fadli Tahar dikenal sebagai Master Hypnosis, sekaligus Ketua Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia (PKHI) Sulawesi Selatan dan Ketua Indonesia Hipnosis Centre (IHC) Sulawesi Selatan.

Melalui materi tersebut, peserta diajak memahami bahwa komunikasi efektif tidak hanya ditentukan oleh isi pesan. Cara menggunakan kata-kata, intonasi suara, bahasa tubuh, emosi hingga kemampuan membangun fokus audiens juga memiliki peran penting.

Selama ini, public speaking sering dipahami sebatas kemampuan tampil percaya diri di depan orang lain. Berdiri di depan audiens, memegang mikrofon, menyampaikan materi, lalu selesai.

Padahal, ada pertanyaan yang lebih penting: apa yang terjadi dalam pikiran orang setelah kita selesai berbicara?

Apakah mereka memahami pesan yang disampaikan? Apakah mereka tertarik? Apakah mereka mengingatnya? Atau pesan tersebut justru hilang beberapa menit setelah komunikasi berakhir?

Pendekatan Hypno Public Speaking mengajak peserta melihat proses komunikasi secara lebih luas. Seorang komunikator tidak hanya dituntut mampu berbicara, tetapi juga perlu memahami bagaimana audiens menerima informasi dan bagaimana membangun koneksi dengan mereka.

Hal serupa berlaku dalam dunia pendidikan.

Dalam konsep Hypno Teaching, guru tidak hanya dituntut menguasai materi pembelajaran. Guru juga perlu memahami bagaimana membuat peserta didik tertarik, fokus dan terlibat selama proses belajar.

Sebab, satu pesan dapat diterima dengan cara berbeda oleh setiap orang.

Ada orang yang lebih mudah memahami informasi melalui gambar, warna, bentuk atau visualisasi. Ada yang lebih responsif terhadap suara, intonasi, ritme dan cerita. Ada pula yang lebih mudah memahami melalui pengalaman, gerakan atau praktik langsung.

Karena itu, cara menyampaikan pesan kepada anak tidak selalu dapat disamakan dengan cara berkomunikasi kepada orang dewasa.

Istilah hypnosis sendiri masih kerap disalahpahami sebagai upaya membuat seseorang tertidur atau kehilangan kesadaran.

Dalam konteks komunikasi dan pembelajaran, hypnosis dapat dibahas sebagai pendekatan yang berkaitan dengan fokus perhatian, sugesti, penggunaan bahasa, imajinasi serta respons seseorang terhadap pengalaman komunikasi.

Salah satu contoh sederhana adalah ketika seorang guru ingin membangun keberanian siswa.

Kalimat “Jangan takut tampil di depan kelas” memiliki tujuan yang berbeda cara penyampaiannya dengan kalimat yang mengajak siswa menarik napas, merasa rileks, kemudian membayangkan dirinya berdiri dengan tenang dan percaya diri di depan kelas.

Tujuannya sama, tetapi pendekatan komunikasinya berbeda.

Dari sini, peserta diajak memahami bahwa komunikasi bukan mengenai kata-kata ajaib ataupun upaya memanipulasi orang lain. Komunikasi lebih jauh berkaitan dengan bagaimana pesan disusun dan disampaikan secara sadar, terstruktur dan bertanggung jawab.

Bagi Fadli Tahar, kemampuan berbicara di depan publik juga tidak semestinya berhenti pada kemampuan membuat orang mendengar.

Komunikasi yang baik dapat memberikan informasi, membangun emosi, menciptakan pemahaman, bahkan membuka perspektif baru bagi orang yang menerimanya.

Karena itu, kemampuan komunikasi menjadi keterampilan penting bagi mereka yang sehari-hari berhadapan dengan manusia, mulai dari guru, trainer, dosen, ASN, pemimpin, orang tua, sales, MC, moderator, narasumber hingga fasilitator.

Pada akhirnya, seseorang mungkin sudah memiliki pengetahuan luas, materi yang bagus dan pengalaman yang panjang. Namun, semua itu tidak akan maksimal jika pesan yang disampaikan tidak mampu membuat orang memperhatikan, memahami dan mengingat.

Komunikasi hebat bukan ketika seseorang mampu berbicara panjang. Komunikasi hebat adalah ketika pesan yang disampaikan mampu hidup di dalam pikiran, dirasakan dalam hati, dan memberikan makna bagi orang yang mendengarnya.

Dari sinilah public speaking tidak lagi sekadar tentang bagaimana seseorang berbicara, tetapi juga tentang bagaimana pesan tersebut diterima dan memberikan dampak positif bagi orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *